Pengolahan Pupuk Organik di Petang Terkendala Pemasaran

By on January 11, 2018
Pengolahan Pupuk Organik di Petang Terkendala Pemasaran

Mangupura, DenPost

Inovasi pengelola Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) II Petang berupa pupuk organik, masih terkendala pemasaran. TPST yang lebih dikenal dengan TPST Tandan Sari tersebut sampai sekarang masih berupaya untuk melebarkan sayap. Di sisi lain, produk yang dihasilkan belum bisa menembus program pemerintah, yang menganjurkan pemanfaatan pupuk organik untuk pertanian jangka panjang.Ketut Sukarta, Ketua TPST yang berlokasi di Banjar Dinas Angantiga, Desa Petang, Kecamatan Petang, mengakui sejauh ini bergerak mandiri dalam pemasaran. Meski TPST tersebut berada di wilayah Badung Utara, tapi pemasarannya sudah lintas kabupaten seperti Karangasem dan Tabanan. Hanya, dia sebatas sebagai pemasok pupuk, sedangkan labelnya atas nama perusahaan lain. “Jadi sesuai permintaan. Misalnya kami disuruh menyiapkan sekian ton, langsung kami siapkan,” ungkapnya, ditemui belum lama ini.

Kendati begitu, terkait kualitas, dia mengklaim sudah ada uji laboratorium terhadap pupuk tersebut. Hal itu dilakukan mandiri dengan bantuan swasta. Dengan demikian, jelasnya, pupuk yang dihasilkan betul-betul memenuhi persyaratan kandungan pupuk organik. “Ada yang membantu dari Tabanan untuk uji labnya. Jadi, kualitas pupuk sesuai standar,” tegasnya.

Dia memaparkan, ide pembuatan pupuk yang bergulir sejak tahun 2010 tersebut berasal dari melimpahnya sampah organik di Badung Utara. Salah satunya adalah lidi pohon aren sisa produksi keterampilan rumah tangga. Lidi yang oleh masyarakat Bali disebut ron tersebut, awalnya dibuang begitu saja dan perlu waktu lama untuk pelapukan. “Nah, jadi saya punya inisiatif untuk membakar dan menjadikannya salah satu bahan baku pupuk organik. Pupuk organik kan perlu arang. Jadi sekarang kami beli atau kalau ada yang membuangnya, kami persilakan di TPST ini,” ungkapnya semringah.

BACA  Lagi, Pengedar Narkoba Jaringan LP Diringkus

Selanjutnya, dia juga mengaku membeli kotoran ternak, khususnya sapi dari masyarakat setempat. Hal ini sebagai salah satu bentuk pemberdayaan peternak. Alasannya, dengan cara ini lumayan juga para peternak itu ada pemasukan. Sejauh ini, sambungnya, dia mempekerjakan 10 tenaga dari masyarakat setempat.

Disinggung biaya produksi, dia menilai lumayan besar bagi masyarakat desa seperti dia. Pun keuntungannya tak terlalu besar, mengingat dia masih menyewa alat transportasi dalam pengiriman. “Kotornya kami menjual dengan harga 800 per kilo. Itu belum dipotong pembelian karung, transportasi, dan lain-lain. Jadi, keuntungan per kilonya di bawah 100,” terangnya yang biasa mengepak dengan berat 40 kg per karungnya.

Sukarta pun mengaku masih berjuang keras menyosialisasikan penggunaan pupuk organik. Di samping pemerintah yang dinilai masih ewuh pakewuh konsentrasi ke penggunaan pupuk organik, juga sebagian besar masyarakat masih bergantung dengan pupuk anorganik. Selain penggunaan lebih sedikit, yang juga menekan pengeluaran, hasilnya lebih cepat.

Namun demikian, dalam jangka panjang penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan tanah. “Kalau pakai pupuk organik, biayanya memang lebih besar dan hasilnya lebih lama. Tapi jika sudah digunakan secara kontinyu, kesuburan tanah akan kembali stabil. Selain itu hasil pertanian lebih sehat untuk konsumsi,” sebutnya.

Hanya, dia tak menampik penggunaan pupur anorganik tetap diperlukan dalam takaran sedikit. Hal itu disesuaikan dengan kondisi tanah pertanian setempat. “Terkadang penggunaan pupuk anorganik tetap diperlukan, meski jumlahnya sedikit,” tandasnya. (115)

Komentar

Komentar

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>