Hunian Hotel di Kuta Berkisar 40 Persen

By on December 6, 2017
Hunian Hotel di Kuta Berkisar 40 Persen

ANJLOKNYA tingkat hunian hotel akibat meletusnya Gunung Agung tidak hanya terjadi di Nusa Dua. Nasib yang sama juga dialami hotel yang ada di kampung turis, Kuta.Tingkat hunian kamar di kawasan Kuta dan sekitarnya periode November hingga awal Desember ini masih berkisar 40 persen.

“Artinya ada penurunan 20 persen dari periode yg sama tahun lalu,” ujar praktisi yang juga pengamat pariwisata asal Legian, Nyoman Rutha Ady, Rabu (6/12).

Namun, dia memprediksi tingkat hunian akan merangkak lagi pada tanggal 20 Desember ke atas sampai pertengahan Januari 2018. Hal ini diakibatkan oleh musim liburan akhir tahun dan perayaan tahun baru. Meski begitu, menurut Rutha Ady, dampak erupsi Gunung Agung akan memperparah jumlah kunjungan wisatawan ke Bali. “Tidak seorang pun berani memastikan sampai kapan Gunung Agung akan berproses yang menimbulkan dampak bagi eksistensi sektor pariwisata,” katanya.

Saat ini pemerintah menurut Rutha Ady bersama-sama pemangku kepentingan pariwisata dan masyarakat perlu melakukan tindakan antisipasi terhadap penurunan kunjungan turis ke Bali.

“Saatnya untuk membenahi konsep, infrastruktur dan pengelolaan kepariwisataan Bali sebagai upaya menjaga citra Bali tetap menjadi primadona bagi wisatawan domestik dan internasional” sarannya.

Penurunan tingkat hunian ini juga diakui Owner Bakung Sari Grup, Nyoman Graha Wicaksana.

Graha via telepon mengatakan, awalnya dia memprediksi akhir tahun ini hunian akan meningkat tajam berkisar 90 persen ke atas. Namun ternyata malah terjun bebas menjadi 40 persen. Bahkan dia mendengar sudah ada beberapa hotel yang mulai menjadwal libur bagi pekerjanya akibat penurunan hunnian ini.

Hal ini diduga karena adanya travel warning dari beberapa negara penyumbang wisatawan. Selain itu, sejumlah maskapai luar juga belum berani menerbangkan wisatawan ke Bali. Padahal penerbangan dari Bali sudah mulai membaik.

BACA  Setahun Longsor, Jalan Menuju Sulangai Belum Diperbaiki

Kondisi ini diharapkannya bisa disikapi oleh pemerintah baik di daerah maupun Pusat dengan melakukan pendekatan ke konsul-konsul negara tersebut. Sebab jika ada travel warning maka asuransi wisatawan yang nekat berlibur tidak ditanggung. “Jadi harus ada komunikasi yang intens baik ke negara penyumbang wisatawan maupun maskapai kalau Bali masih aman dikunjungi,” ujarnya.

Selain itu, lnajut Graha, hal ini bisa menjadi pembelajaran dimana ke depan pariwisata ini tidak bisa hanya tergantung dari transportasi udara. Dia mencontohkan, di Hongkong ada konektivitas bandara antara Hongkong dengan Makao. Hal ini perlu dipertimbangkan di Bali. Misalnya dengan memanfaatkan kapal-kapal cepat menghubungkan Bali dengan bandara di Banyuwangi atau bandara terdekat lainnya, sehingga ketika penerbangan terganggu wisatawan bisa datang dan pergi ke Bali lewat laut. “Ini sepertinya belum diantisipasi sehingga saat bandara ditutup waktu ini terjadi penumpukak wisatawan. Padahal pemerintah melalui Kementerian Perhubungan bisa melakukan langkah memanfaatkan kapal-kapal yang ada,” katanya.

Namun begitu, dirinya mengaku tidak mau menyalahkan siapapun karena yang diperlukan saat ini adalah saling mendukung untuk mengatasi permasalahan yang ada. “Ini hanya masukan tanpa bermaksud menyalahkan pihak manapun. Mari bersama melakukan yang terbaik agar pariwisata ini cepat membaik,” pungkas Mantan Ketua LPM Kuta Ini. (sug)

Komentar

Komentar

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>