Warga Keluhkan Limbah dan Bau Busuk

By on November 22, 2017
Warga Keluhkan Limbah dan Bau Busuk

Nusa Dua, DenPost
Puluhan peternak yang ada di Kelurahan Benoa, Rabu (22/11) kemarin dikumpulkan Lurah Benoa, Wayan Solo. Langkah ini diambil menindaklanjuti keluhan warga terkait munculnya limbah serta bau busuk di beberapa kawasan di Benoa. Para peternak ini juga diberi pembinaan, dan diingatkan tentang pentingnya membuat pengolahan limbah untuk menjaga lingkungan masing-masing.
Pengumpulan puluhan peternak tersebut, kata Solo, memang didasari laporan warga. Warga yang ada di sekitar lokasi peternak tersebut mengaku terganggu dengan limbah serta bau yang dihasilkan. Terlebih-lebih saat curah hujan kerap mengguyur Kuta Selatan dan Benoa pada khususnya. “Dampak dari kegiatan beternak memang cukup sering dikeluhkan warga sekitar. Seperti aktivitas beternak babi di seputaran Puja Mandala, yang dikeluhkan warga yang tinggal di dataran rendah. Soalnya ketika hujan turun, limbah babi itu kadang ikut terbawa air menuju pekarangan rumah warga,” paparnya.

Selain limbah babi, ada pula keluhan berkaitan dengan bau yang dihasilkan. Seperti yang ada di kawasan pesisir mangrove Benoa.
Keluhan ini disampaikan warga yang tinggal di perumahan maupun  penghuni vila sekitar kawasan tersebut. “Seminggu lalu, polisi Tahura juga sempat datang. Saat itu disampaikan, akan ada langkah tegas terhadap warga yang aktivitasnya dapat menimbulkan pencemaran dan kerusakan mangrove. Nah, dalam hal itu termasuk pula aktivitas beternak warga ini,” ungkap Solo.

Selaku aparat pemerintahan, dia mengimbau para peternak bisa mengelola limbah dan bau supaya itu tidak malah menimbulkan keluhan dan pencemaran lingkungan. “Kami sadar itu adalah upaya masyarakat untuk dapat memperoleh penghidupan. Kalau itu kami larang dengan saklek, lalu bagaimana dengan kehidupan mereka? Tentu itu juga harus diperhatikan,” sebutnya.

Mengenai solusi masalah ini, dia menyarankan pembuatan septictank.
Karena dengan alat ini, limbah ternak yang dihasilkan tidak mudah hanyut terbawa air hujan. Dengan sendirinya bau yang dihasilkan juga bisa dikurangi. Saat ini, sambung Solo, adat total  44 peternak di wilayah Kelurahan Benoa. 40 di antaranya adalah peternak babi, sedangkan 4 sisanya adalah peternak ayam yang tersebar di beberapa tempat.
Namun jumlah ini diakui belum final. Karenanya pendataan akan lebih diperdalam lagi para kepala lingkungan.

Apalagi dalam pertemuan juga muncul sebuah gagasan membentuk satu paguyuban peternak di Benoa. Ini nantinya bukan hanya akan menjadi wadah para peternak babi dan ayam, juga peternak anjing dan kambing yang terbilang baru diketahui keberadaannya di wilayah Kelurahan Benoa. Yang jelas penyelesaian mengenai bau dan limbah tidak akan menunggu adanya paguyuban.

“Sesuai arahan, kami minta kedua dampak itu bisa segera disikapi. Jangan sampai itu kembali terjadi. Apalagi untuk yang berlokasi di dekat mangrove, pihak kehutanan sudah menegaskan tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas,” pungkasnya.(113)

Komentar

Komentar

BACA  Nantikan Kehadiran All New Kijang Innova di Bali

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>