Roti dan Kenangan Letusan Gunung Agung 1963

By on October 8, 2017
Roti dan Kenangan Letusan Gunung Agung 1963

STATUS awas Gunung Agung, membangkitkan lagi kepanikan I Wayan Roti (66), salah seorang warga Kedampal, Datah, Karangasem. Masih segar di ingatan Roti, bagaimana dia dan keluarganya mesti bergegas mengungsi ketika hujan pasir menerjang desanya 54 tahun silam atau tahun 1963. Saat itu, dalam situasi mencekam Roti dan keluarganya serta warga lainnya berhamburan mengungsi ke tempat aman.Roti mengaku saat itu dirinya baru berumur 12 tahun. Itu sebabnya dia masih ingat detail rentetan erupsi Gunung Agung. “Setelah turun hujan pasir, kami baru mengungsi,” ucapnya ketika ditemui belum lama ini.

Kala itu Roti bersama orangtuanya kebetulan banyak memiliki ternak sapi. Meski fasilitas transportasi dan jalan tidak sememadai saat ini, dengan susah payah semua ternak sapinya itu turut dibawa ke pengungsian di Desa Merita, Culik, Karangasem. “Kalau dulu masih jalan tanah dan sebagian besar pengungsi berjalan kaki. Saya sekitar jam 4 sore lari sambil membawa sapi dan diguyur hujan pasir menuju ke tempat pengungsian,” kenangnya.

Meski Kedampal saat itu masuk kawasan rawan bencana (KRB) III, dan warga tergolong terlambat mengungsi, menurut Roti hanya dua orang warga yang meninggal terkena material erupsi. “Jarak desa saya hanya sekitar 5 kilometer dari puncak. Kalau di tempat saya ada dua orang korban meninggal. Mungkin di tempat lainnya banyak ada korban,” ujarnya.

Dalam ingatan Roti, suara dentuman keras letusan Gunung Agung masih begitu lekat. “Pas meletus suaranya keras seperti suara lima pesawat terbang bergemuruh berbarengan,” terangnya. Beruntung Roti dan keluarganya bisa selamat sampai di tempat pengungsian.

Dikatakan Roti, sekitar lima bulan mereka mengungsi. Hampir sama dengan saat ini, bantuan kala itu juga berdatangan ke pengungsian. “Bantuan banyak berdatangan dari berbagai kalangan,” jelasnya.

BACA  Biaya Pemindahan Utilitas PDAM Masih "Gabeng"

Kini, ketika Gunung Agung kembali “bangun”, Roti dan keluarganya terpaksa kembali mengungsi. Namun sekarang dia memilih mengungsi di Banjar Dinas Piakan, Sibang Kaja, Badung bersama anaknya. “Saya sudah 14 hari lalu mengungsi ke sini,” jelas Roti didampingi istrinya, Nengah Centeng dan juga Wayan Suena selaku Kelian Dinas Banjar Piakan.  Kendati belum turun hujan pasir tetapi Roti tetap mendengar imbauan pemerintah yang menyatakan Gunung Agung sudah berstatus awas. “Imbauan pemerintah harus mengungsi ya kami mengungsi,” katanya.

Sementara itu, Wayan Suena selaku Kelian Dinas Banjar Piakan menerangkan, di banjarnya ini awalnya ada 40 orang pengungsi. Namun belakangan ada 18 orang sudah dipulangkan karena tempatnya di luar KRB. Dikatakan Suena, untuk bantuan pengungsi sudah rutin disalurkan. “Bantuan seperti beras, susu dan lainnya sudah kami salurkan. Begitu ada bantuan langsung kami salurkan ke pengungsi,” katanya. (dwa)

Komentar

Komentar

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>