Maha Guru Aertrya Narayana Lanjutkan Pertapaan di Goa Panca Pandawa

By on August 21, 2017
DIEVAKUASI - Maha Guru Aertrya Narayana saat dievakusi dari lereng perbukitan Antab Sai, Desa Tambakan, Jumat (18/8) lalu.
Singaraja, Denpost
Pascadievakuasi oleh masyarakat bersama petugas KRPH Provinsi Bali dari hutan di lereng perbukitan Antab Sai, Desa Tambakan, Jumat (18/8) lalu, petapa Maha Guru Aertrya Narayana kembali melanjutkan pertapaannya. Kali ini di bertapa  di Goa Panca Pendawa yang terletak di kawasan hutan Dusun Mengandang, Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. “Maha Guru Aertrya Narayana sejak kemarin sudah pindah, dan melanjutkan tapa semedi di Goa Panca Pandawa di tengah hutan Dusun Mengandang,” kata Komang Awit (40), salah seorang pengikut Maha Guru Aertrya Narayana.

Dipilihnya Goa Panca Pendawa lantaran sebelumnya kehadiran Maha Guru Aertrya Narayana diprotes masyarakat Desa Tambakan karena dianggap mencemari sumber mata air bersih desa setempat. Karena memang, selama bertapa Maha Guru pasti tinggal di dekat sumber mata air. ” Izin tinggal menjalani tapa semedi Maha Guru Aertrya Narayana saat ini sedang dalam proses pengurusan oleh pihak keluarga dan yayasan,” jelasnya. Ia bersama sejumlah pengikut Maha Guru Aertrya Narayana hanya mempersiapkan segala bentuk kebutuhan yang diperlukan selama menjalani pertapaan. Komang Awit mengungkapkan bahwa Maha Guru Aertrya Narayana banyak memiliki pengikut tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Buleleng. “Ini kami akan bawakan barang-barang yang dulu dipakai Maha Guru di Bukit Antab Sai menuju ke Goa Panca Pandawa. Ya, kami bawakan terpal, ember, selimut, dan makanan juga dupa. Hanya patung Dewa Wisnu saja kami tidak pindahkan karena sangat berat,” jelasnya. Terkait asal-usul nama Goa Panca Pandawa, Awit menyebut nama goa itu diberikan oleh Maha Guru Aertrya Narayana. Tak hanya Goa Panca Pandawa, Maha Guru Aertrya Narayana rupanya sudah melanglang buana ke sejumlah wilayah di Buleleng seperti kawasan Batu Belah dan Batu Bolong.

“Tujuan akhir beliau untuk mencapai Moksa, Maha Guru sudah memiliki gelar, dan putus dari kepentingan duniawi. Kalau beliau meninggal di dalam hutan, baik itu akibat ancaman binatang buas dan meninggal karena sebab lain, itu sudah dianggap moksa,” tandasnya. (bin)

Komentar

Komentar

BACA  Penolak Reklamasi Sampaikan Aspirasi Dengan Berenang

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>