Begini Derita Santi Arini, Korban Tabrak Lari di Gianyar

By on July 14, 2017
TABRAK LARI - Korban tabrak lari di Gianyar hingga kini belum sembuh.

NASIB malang menimpa keluarga I Nengah Sarma (42) asal Banjar Guliang Kawan, Desa Bunutin, Bangli. Empat tahun lalu dia menjadi korban tabrak lari bersama istri, Ni Ketut Suti serta anaknya Ni Wayan Santi Arini (14). Akibat musibah tersebut, istrinya meninggal dunia, sementara Sarma dan putrinya mengalami patah tulang. Bahkan, hingga saat ini, Santi belum bisa berjalan normal.Ditemui di rumahnya, Jumat (14/7), Sarma menuturkan, kecelakaan maut tersebut terjadi di lampu merah simpang empat dekat Lapangan Astina Gianyar pada 15 Juli 2013 lalu. Saat itu dia datang dari arah Selatan setelah menengok cucunya di Kelurahan Abian Base, Gianyar. Ketika belok ke arah Timur, tiba-tiba bagian belakang motornya ditabrak sebuah mobil Honda Jazz yang datang dengan kecepatan tinggi. Akibat bentulan cukup keras dengan aspal, sang istri langsung meninggal. Sementara dia bersama anaknya mengalami patah tulang. ‘’Saya patah bagian pinggul kanan. Sedangkan anak saya mengalami patah kaki kanan,’’ tuturnya sedih. Bukannya bertanggung jawab, lanjut Sarma, pengendara Jazz itu malah kabur.

Empat tahun berlalu, Santi Arini masih menderita. Dia yang kini duduk di bangku Kelas III SMP 3 Tamanbali mengaku sangat putus asa. Padahal dia sudah menjalani operasi tulang sebanyak delapan kali, tetapi sampai sekarang belum sembuh.

Sejak kelas 5 SD, akibat musibah tersebut, Wayan Santi Arini terpaksa menggunakan tongkat. Saat ke sekolah pun setiap hari harus diantarkan. Apalagi saat hujan-hujan seperti sekarang, ayahnya harus rela menunggui hingga jam sekolah berakhir. Ini dilakukan Sarma karena khawatir Santi Arini terpeleset lantaran lantai becek.

Sejak musibah itu pula, Sarma yang semula bekerja sebagai tukang tidak bisa melanjutkan aktivitasnya. Dia tidak bisa mengangkat beban berat sejak pinggulnya patah. Mengingat patah yang dialami anaknya sangat parah, tulangnya pun dipasangi pen. Dia juga takut diajak kontrol ke RS Sanglah karena oleh dokter kakinya disarankan untuk diamputasi. Kini kontrol rutin hanya dilakukan ke RS Bangli atau Puskesmas Tamanbali.

BACA  Curi Sapi, Sopir Truk Galian C Diciduk

Sejatinya, menurut Sarma, pen yang dipasang pada kaki anaknya sudah bisa dilepaskan setahun lalu. Tetapi karena keterbatasan biaya yang dimiliki, itu belum bisa dilakukan.  Untuk membuka pen dan operasi lanjutan sehingga kaki anaknya bisa kembali normal, biaya yang dibutuhkan sedikitnya Rp 15 juta. Tetapi biaya untuk itu tidak ada. Selama tujuh bulan dirawat di rumah sakit akibat kasus tabrak lari, semua barang miliknya sudah habis dijual. ‘’Terlebih sekarang saya tidak bekerja. Biaya hidup hanya mengandalkan penghasilan anak keempat yang bekerja di konter,’’ jelasnya sedih.

Kadang biaya hidup juga dibantu oleh anaknya yang sudah menikah. Karena himpitan ekonomi yang menimpanya dia berharap mendapat bantuan untuk meringankan biaya berobat anaknya. Sementara Santi Ariani mengaku kakinya masih sering sakit dan tulangnya terasa ngilu kalau berjalan. Untuk naik ke tempat tidur juga harus dibantu oleh bapak atau kakaknya. Meski kondisinya seperti itu namun proses pembelajaran tidak sampai terbengkalai. ‘’Harapannya agar ada yang bisa membantu sehingga bisa berjalan normal,’’ tandasnya. (dek)

Komentar

Komentar

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>