Ketua Pansel Pegawai RS Bali Mandara Tak Penuhi Panggilan Dewan

By on April 21, 2017
PANSEL – Suasana pertemuan anggota DPRD Bali dengan Pansel yang membahas masalah rekrutmen pegawai kontrak RS Bali Mandara.

Renon, DenPost

Pertemuan antara anggota DPRD Bali dan Panitia Seleksi (Pansel) Pegawai Kontrak RS Bali Mandara, Jumat (21/4), sempat panas. Sejumlah anggota Dewan menyampaikan pernyataan yang sangat keras kepada Pansel. Bahkan Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta, sempat menuding Pansel angkuh.Ketidakhadiran Ketua Pansel yang juga Sekda Pemprov Bali, Cokorda Ngurah Pemayun, sempat dipersoalkan anggota Dewan. Ketua Pansel mendisposisikan kepada Kepala BKD Provinsi Bali yang juga Wakil Ketua Pansel, Ketut Rochineng.

Ketua Komisi I DPRD Bali, Ketut Tama Tenaya, ketika membuka acara menyesalkan rekomendasi Dewan tidak diindahkan Pansel. Padahal itu penting untuk mengklirkan persoalan. “Tapi kami kirim surat ditabrak begitu, ini ada apa?” tanya Tama.

Sementara itu, menurut Kepala BKD, Rochineng, Ketua Pansel sudah mendisposisikan dirinya dan anggota Pansel lainnya untuk menghadiri undangan Dewan. “Kami diminta menghadiri karena beliau ada acara anaknya di Unud,” paparnya. Ia menegaskan, kalau dirinya diterima, dia bisa memberi penjelasan. Karena dirinya selaku Wakil Ketua Pansel ikut terlibat dari awal. Namun, kalau dirinya tidak diterima tidak apa-apa. “Saya santai saja,” katanya.

Suasana pertemuan menjadi panas ketika Ketua Komisi IV, Nyoman Parta, mendapat giliran bicara. Ia mempersoalkan kenapa dalam tes kemampuan dasar (TKD) dengan sistem CAT tidak diberlakukan passing grade.Yang menarik dilakukan Pansel ini, tes dengan sistem CAT, alatnya didatangkan. Biayanya besar. Diyakini hasilnya objektif. Nilai bobotnya kok kecil, 40 persen, dan tidak ada passing grade. Pertanyaaanya adalah, untuk apa kalian mengadakan alat itu? Untuk apa itu? Kok tidak langsung saja dipotong berapa misalnya. Misalnya untuk perawat nilai terendahnya 400. Di atas itu ikut semuanya, di bawah itu gugur. Otomatis dari awal sudah terseleksi. Artinya mesin yang objektif dan kita percaya itu akan memotong orang dengan baik, dengan sopan, dengan benar,” ujarnya.

BACA  Uang Kredit Diduga Digelapkan, Anggota Gapoktan Lapor Polisi

Parta mengaku heran, malah justru tes wawancara bobotnya 60 persen. Dia mengaku dalam tes wawancara ada yang tidak benar. Pesertanya cukup banyak mencapai 5.800 yang ikut. “Kami monitor itu. Bahkan ada yang dua menit itu. Kami akan datangkan orang itu kalau diperlukan. Hanya dua menit. Ditanya siapa anggota yang dikenal. Hanya segitu, disuruh pulang. Acara apa itu? Ada yang ditanya dengan bahasa Bali, ada ditanya dengan bahasa Inggris. Tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya. Apa yang akan dikerjakan di RS Bali Mandara ini?” cecar Parta dengan emosi.

Ia mengancam untuk mengumpulkan mereka diwawancarai (peserta yang mengadu) dengan yang mewawancarai, untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. “Kami akan kumpulkan itu di wantilan dewan ini. Kami tidak main-main dengan masalah ini. Karena kalian angkuh. Ketika Dewan lewat Ketua DPRD mengirim surat untuk menyetop sementara, kalian kebut. Kalau distop sementara kenapa sih? Ngebut dilaksanakan terus,” katanya.

Menjawab masalah bobot, Rochineng menjelaskan sudah menjadi standar bahwa dalam setiap tes, tes TKD dengan sistem CAT bobotnya 40 persen. Dan, bobot tes wawancara adalah 60 persen. “Itu sudah standar, kami tidak buat-buat,” terangnya.

Dalam pertemuan, Dewan hanya meminta data kepada Pansel, baik data hasil tes CAT maupun tes wawancara. Juga data yang mewawancarai termasuk materi-materi yang disampaikan dalam wawacara. (106)

Komentar

Komentar

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>