Tidak Bisa Cairkan Tabungan, Nasabah LPD Gilimanuk Protes

By on March 19, 2017
Salah seorang nasabah LPD Gilimanuk yang protes
Negara, DenPost
Sejumlah krama Desa Pakraman Gilimanuk yang juga nasabah protes terhadap manajemen pengelola LPD. Krama desa/nasabah LPD Gilimanuk, Minggu (19/3) mengeluhkan dana yang mereka simpan di LPD tersebut tidak bisa dicairkan hingga belasan tahun. 

Dana nasabah yang hingga kini tidak bisa ditarik itu jumlahnya tidak sedikit. Tapi, LPD justru saat ini akan membangun gedung kantor baru. Adanya permasalahan itulah yang menyebabkan Rapat Anggota Tahunan LPD dua pekan lalu sempat ricuh.

Gusti Made Sudarma (67), salah seorang krama desa mengaku dana ratusan juta yang dia depositokan di LPD belasan tahun yang lalu hingga kini tidak bisa dicairkannya. Pedagang di Pasar Gilimanuk ini mengatakan, sebelas tahun yang lalu ia mendepositokan uangnya senilai Rp 110 juta. Saat itu, LPD Gilimanuk diketuai oleh almarhum Gede Nirka. Pada 25 Januari 2011, ia dibuatkan Surat Simpanan Berjangka oleh Plt. Ketua LPD Gilimanuk I Putu Karya bersama Kasir LPD, Ni Ketut Darsani. Nilai depositonya itu dipecah menjadi dua masing-masing pada Surat Simpanan Berjangka nomor 03.b/SSB/LPD/GLM/I/2010 atas namanya sendiri senilai Rp 60 juta dan pada Surat Simpanan Berjangka nomor 04.b/SSB/LPD/GLM/I/2010 atas nama istrinya, Gusti Biyang Ramiyani senilai Rp 50 juta. Dalam surat simpanan berjangka tersebut jatuh tempo selama 12 bulan atau hingga 25 Januari 2011.
Bahkan hingga LPD diketuai oleh I Putu Karya, dananya tersebut makin tidak jelas. Bunga yang dijanjikan di awal sebesar 1 persen per tahun dari nilai simpanannya tersebut tidak pernah terealisasi. Hingga kini ia baru menerima tiga kali dari LPD, yakni dari tahun 2013 hingga 2015 masing-masing senilai Rp 4 juta. Dana senilai Rp 12 juta itu ternyata bukanlah bunga, namun pengembalian pokok depositonya yang dicicil dari 20 % keuntungan LPD yang digunakan untuk membayarkan piutang LPD.  Tahun 2016 dia belum menerima kendati RAT sudah berlangsung dua pekan lalu.
Dikatakan, sebenarnya dia menerima kondisi tersebut. Namun, dia berniat menarik sisa dananya Rp 98 juta untuk kepentingan di hari tuanya seperti pengobatan dan biaya anak sekolah, tapi justru mengalami kesulitan.
Menurutnya, pengelola LPD terkesan cuek. Dalam RAT justru akan membangun gedung baru bertingkat di Pasar Gilimanuk tanpa mau menyelesaikan persoalan dana krama yang hingga kini masih bermasalah. 
“Saya tidak diberi kesempatan berpendapat dalam RAT sehingga saya sempat mencak-mencak bahkan tidak ada respon jelas dari pengurus LPD,” jelasnya.
Dia memgaku sedih karena justru mendapat intimidasi dari salah seorang pengurus LPD setempat yang mengatakan jika ia terus-terusan ngotot menuntut pencairan sisa dananya itu justru tidak akan dilayani dan disuruh untuk mencari pengurus LPD yang lama di mana ketuanya sudah meninggal dunia. 
Dari informasi, kondisi ini juga dialami belasan krama desa lainnya yang sebelumnya menaruh dananya di LPD setempat. Bahkan karena membutuhkan dana itu, pekan lalu beberapa krama sempat mendatangi langsung Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Jembrana, I Gusti Ngurah Sumber Wijaya, namun tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
Sementara itu Kepala LPD Gilimanuk, I Putu Karya, dikonfirmasi media tidak mau berkomentar banyak. Dia mengaku masih melaksanakan persembahyangan di Gianyar. 
Dikatakannya, masalah tersebut adalah warisan yang dia terima sebagai pengurus baru dari pengurus LPD sebelumnya. Dia mengaku saat ini hanya bisa memperbaiki perlahan kondisi LPD yang dipimpinnya tersebut. (120)

Komentar

Komentar

BACA  Kawasan Danau Buyan Akan Disulap Jadi Taman Bunga

About Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>