Setelah Patung Naga Warga Mekar Sari Temukan Kolam Pancoran

By on March 4, 2017
CARI STRUKTUR BEJI - Penggalian dilakukan warga Banjar Mekar Sari, Desa Carangsari, Petang untuk menemukan struktur bangunan Pura Beji di lahan milik I Wayan Dapet.

Petang, DenPost

Setelah patung pancoran berkepala naga, pemilik tanah di Banjar Mekar Sari, Desa Carangsari, Petang kembali melanjutkan penggalian di tebing sungai kawasan tersebut. Hasil eskavasi di lahan milik I Wayan Dapet tersebut menemukan kolam penampungan dari sumber mata air yang mengalir ke Pura Beji setempat. Hanya, dari kolam penampungan air belum ditemukan tanda-tanda air keluar. “Kolam sudah sampai dasar kami gali, tapi airnya belum keluar,” kata Wayan Yuliana, putra I Wayan Dapet, saat ditemui di lokasi sedang bersih-bersih, Jumat (3/3).

Yuliana menuturkan, dia dan keluarga berniat mengembalikan fungsi pancoran yang dibuat oleh leluhurnya, yang sempat tertimbun hingga ratusan tahun itu. “Kami ingin mengembalikan fungsinya sesuai dengan yang sebelumnya, karena ini kan peninggalan leluhur kami,” tutur pemuda 30 tahun itu.

Usai penemuan kepala naga bulan lalu, Yuliana mengumpulkan informasi mengenai peninggalan yang berada tepat di belakang rumahnya itu. Sebuah palinggih (turus lumbung) juga didirikan di lokasi. Kata dia,  dulu pernah berdiri beberapa palinggih di sana. Di antaranya palinggih Ratu Niang dan palinggih Dewi Kwan Im. Itu dia ketahui setelah ada orang dari Puri Pemecutan yang datang ke sini dan membagi informasi terkait sejarah itu.

Saat rahina Tilem, Sabtu (25/2) lalu, lanjut Yuliana, dilakukan upacara nuntun dan Ida Batara telah distanakan di palinggih turus lumbung. Mengenai upacara untuk selanjutnya, ujar dia, masih direncanakan, sehingga masih belum ditentukan rencananya seperti apa persisnya. “Sekarang sumber air belum ditemukan. Semoga setelah upacara nanti, sumber air berikut airnya bisa mengalir agar bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Baik untuk pengelukatan nunas tamba (obat) maupun lainnya,” tambah Yuliana.

Meski penemuan ini termasuk peninggalan sejarah, Yuliana mengaku belum ada petugas arkeologi yang datang atau melakukan penelitian. Sementara dari pemerintah juga belum ada tindak lanjut. “Dari dinas katanya sudah sempat ke sini, tapi saya tidak ketemu. Belum tahu apa akan ada tindak lanjut atau tidak. Badan arkeologi memang kami belum melaporkan,” tuturnya.

BACA  Imigrasi Akui Belum Maksimal Bekerja

Selain pancoran dengan bentuk kepala naga, di lokasi juga ditemukan patung berbentuk kura-kura, serta beberapa patung yang diduga dijadikan bagian pancoran. Lokasi penemuan merupakan sebuah jurang dengan aliran sungai di sampingnya, tepat berada di belakang rumahnya. Posisinya sekitar 60 meter dari jalan raya Denpasar menuju Pelaga, Petang.

Menurutnya, setelah penemuan itu dipublikasikan media massa dan media sosial, banyak orang yang mengunjungi lokasi itu. “Setelah ada informasi dari berbagai media, keluarga maupun warga yang masih ada kaitan dengan Pura Beji itu datang melihat ke sini,” imbuhnya tersenyum.

Sebelumnya, satu patung naga yang diduga situs purba ditemukan Wayan Dapet, warga Banjar Mekar Sari,  Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Badung saat membersihkan tegal miliknya, beberapa hari lalu. Dari penuturaan Wayan Dapet, di lokasi penemuan, (14/2) ditemukanya patung yang mirip pancoran beji itu berawal dari mimpi. Singkat cerita, mimpi itu mengisyaratkan dia untuk membersihkan tegalan yang berada di lereng bukit dan sungai itu. Dapet mempercayai mimpi itu sebagai petunjuk, karena mengaku anaknya sering dirundung masalah.

Sebuah patung naga dan beberapa anak tangga ditemukan tepat di sebelah patung dengan kedalaman satu meter itu. Itu makin menguatkan dugaan bahwa patung tersebut merupakan beji yang tertimbun. Dugaan itu juga dikuatkan penuturan Dapet. Seingatnya, dulu dia sempat mendengar cerita para orang tua di lokasi tersebut sempat ada sebuah beji.

“Dulu menurut cerita di tempat ini adalah Pura Taman Beji Bagendra. Entah karena apa jadi tertimbun, mungkin tertimbun tanah lonsoran,” tutur pria yang kini berusia 50 tahun itu. “Yang jadi mangku di pura beji ini adalah penglingsir kami,” tambahnya. (115)

Komentar

Komentar

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>