Pengoplosan Elpiji Marak, Aparat Tak Gerak

By on February 28, 2017
Pengoplosan Elpiji Marak, Aparat Tak Gerak. Diduga Ada Agen Nakal

Aktivitas pengoplosan elpiji ini tergolong besar, bahkan beromzet jutaan rupiah per hari.

Kegiatan melawan hukum ini dilakukan cukup lama. Dengan menggunakan alat pipa untuk memindahkan isi elpiji, jelas sangat membahayakan. Sedangkan sejumlah konsumen mengaku isi tabung 12 kg tidak sesuai ukuran. ‘’Harganya memang lebih murah, tapi isinya tak sesuai,’’ ujar seorang konsumen.

Upaya pengoplosan itu dilakukan semata-mata menangguk keuntungan pribadi. Bayangkan saja, saat ini harga rata-rata elpiji 12 kg bervariasi antara sekitar Rp 135 ribu hingga Rp 143 ribu per tabung. Untuk gas melon subsidi dipatok antara Rp 16 ribu-Rp 20 ribu di tingkat pengecer. Sedangkan di agen, harga gas melon hanya Rp 14.500 terkait harga eceren tertinggi (HET) sebagaimana SK Gubernur Bali No.40 Tahun 2014 mengenai distribusi dan harga elpiji 3 kg  (bersubsidi) di Provinsi Bali. Jika ada orang mengoplos gas melon ke tabung 12 kg, maka pengoplos dapat meraup keuntungan hingga Rp 77 ribu/tabung.

Perbuatan tersebut jelas melanggar Pasal 62 Ayat (1) jo Pasal 8 Ayat (1) huruf a, b, c, Pasal 9 Ayat (1) huruf d, dan Pasal huruf a UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, serta Pasal 32 Ayat (2) jo Pasal 30 dan Pasal 31 UU Tahun 1998 tentang metrologi legal.

Sumber lainnya menyebutkan, pola distribusi tertutup PT Pertamina melalui agen elpiji yang menyerahkan ke pangkalan seharga Rp 13.300 sama sekali tidak relevan. Walau ada dasar kontrak kerjasama antara agen dengan pangkalan dalam ketentuan sistem PT Pertamina yang disebut Simolek dan  penebusan melalui sistem SMS banking yang dibayar oleh pangkalan lewat HP dari rekening masing-masing pemilik pangkalan, hal itu juga sebatas sistem administrasi. Kurangnya pengawasan dan sanksi tegas dari aparat terkait, membuat sistem itu menjadi ladang subur bagi pemilik agen elpiji nakal yang disubsidi negara. Praktik oknum yang merampas hak masyarakat miskin tersebut seolah mendapat angin segar.

BACA  Ribuan Personel Polisi/TNI Amankan Malam Tahun Baru

Bahkan diduga ada oknum agen nakal yang memanipulasi data elpiji bersubsidi. Dengan memiliki lokasi terbilang besar dari dua perusahaan agen elpiji di wilayah padat penduduk, serta satu perusahaan agen elpiji 12 kg dan 50 kg, oknum itu disinyalir menekan pemilik pangkalan. “Saya membeli elpiji 3 kg dari agen seharga Rp 15.500, padahal saya pangkalan. Selain itu, saya harus mengambil elpiji 12 kg dengan harga Rp 127.500 per tabung. Kemana dijual? ” tandasnya. (tim dp)

Komentar

Komentar

Pages: 1 2

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>