Opini Bali Edisi 27 Februari 2016

By on February 27, 2017

Suryawati Ananta

Tak henti hetinya saya sampaikan harapan terhadap pemimpin Bali ke depan. Harus berpegang pada sastra dan kitab suci. Memimpin dengan konsep asa brata, kitab Niti Sastra. Memahami dan mengerti tentang Bali dalam seala aspek.
Wilson, Denpasar

Demokrasi Indonesia kebablasan. Semua bisa dipolitisasi termasuk agama. Harus dilakukan pembenahan terhadap politik dan demokrasi di Indonesia.
Hari,Karangasem.

 

Terkait kasus bunuh diri satu keluarga di desa Bondalem Singaraja. Mungkin disebabkan karena trauma, sakit – sakitan dan mahalnya biaya rumah sakit. Dulu saat ada JKBM masyarakat merasa banyak terbantu. Namun setelah berintegrasi dengan JKN dirasa menyulitkan dan memberatkan masyarakat.
Wayan Gama, Denpasar
Gusti, Karangasem

 

Semua kebijakan dan program yang di keluarkan presiden/ pemerintah bertujuan baik untuk masyarakat. Seperti JKN atau BPJS. Dan menjadi bermasalah saat aparat di bawah tidak melaksanakan intruksi dari yang diatasnya. Seperti kasus yang menimpa seorang pasien yang akhirnya meninggal. Saat hendak mengurus BPJS dilarang oleh kelian dinasnya, karena dianggap memiskinkan diri.

Daerah – daerah yang memiliki program kesehatan seperti JKBM seharusnya tidak dipaksa untuk beralih ke BPJS atau setidaknya habiskan dulu program ini sampai dua periode baru di ganti.
Agung Purnawijaya, Blahbatuh.

 

Saya mohon agar pemerintah menelusuri informasi yang disampaikan oleh bapak Agung Purnawijaya, terkait ikut BPJS dianggap memiskinkan diri. Jika hal tersebut benar, mohon oknum tersebut ditindak.
Wayan Petran, Bangli.

 

Jalur Denpasar Gilimanuk sering macet karena berbagai hal. Ada sebuah jalan alternatif yang bisa di gunakan yaitu jalur  Beraban – Tanah Lot –  Tanggun Titi –  Tegal Mengkeb yang jalannya cukup bagus. Jika ingin lebih cepat bisa dilanjutkan lewat Cekik menuju Soka. Hanya jalannya tidak sebagus jalur sebelumnya.  Mungkin pemerintah bisa mengupayakan perbaikan jalan Cekik – Soka agar bisa lebih cepat dan lebih aman.
Nang Kenceng, Denpasar

 

BACA  Opini Bali Edisi 27 Agustus 2015

Hajatan politik membuat suhu politik membara dan menggelora. Saling hujat, saling menjatuhkan. Bukan hanya dikalangan orang muda namun juga orang tua. Dari kalangan rakyat biasa sampai orang – orang pintar. Seharusnya orang – orang yang sudah tua dan pintar tidak ikut – ikutan menghujat dan mengatakan hal – hal yang buruk, justru harusnya menjadi peredam dan peneduh. Memberi contoh kepada yang muda bagaimana bersikap santun dan beretika.
Ugi, Kediri
Ireng, Bajera

Komentar

Komentar

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>