Opini Bali Edisi 21 Februari 2017

By on February 21, 2017

Suryawati Ananta

Prihatin dengan banyakanya aksi penghimpunan dana dijalan – jalan belakangan  dengan  mengatasnamakan  membantu korban bencana  di Kintamani.  Kegiatan ini memberikan citra buruk pada pemerintah, khususnya pemda Bali, seolah – olah pemerintah tidak membatu korban.  Selain itu, apakah benar dana tersebut akan sampai pada korban.  Oleh sebab itu, sebaiknya pemerintah menghimbauan masyarakat, bagi yang ingin memberikan sumbangan bisa disalurkan ke lembaga tertentu yang sudah ditunjuk dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai ada pihak yang memancing diair keruh
Walek, Denpasar

Untuk menghindari kegiatan memacing di air keruh, pemerintah harus hadir menertibkan aksi – aksi pengumpulan dana atas nama korban bencana. Memanggil kordinatornya dan minta pertanggungjawaban dari dana yang dikumpulkan.
Gusti, Renon

 

Pilgub masih lama, tapi baliho calon sudah beterbaran.  Trotoar sebagai tempat parkir dan berjualan adalah lagu lama.  Tidak ada lagi keliatan satpol PP menertibkannya.
Arya, Denpasar

 

Kenaikan berbagai biaya seperti samsat, STNK, BPKB dan lain – lain sampai 300 persen tidak membawa perbaikan kinerja.  Contohnya, saya beli mobil STNKnya sebulan baru keluar.  Padahal sebelumnya hanya butuh kurang lebih empat hari saja.
Made Torek, Denpasar

 

Parkir di Tabanan sudah mulai nyaman dilihat. Di jalan Dipnogoro di sisi barat sudah aman tertib.  Namun yang masih bermasalah adalah disisi timur. Parkir sampai jejer  dua mobil. Tidak tanggung – tanggung ada yang sampai menginap.  Mohon ditertibkan semuanya, agar lebih tertata, aman dan  bersih.
Dengkek, Tabanan

 

Hampir sebulan uji coba pengalihan arus di Kuta. Namun belum berjalan dengan lancar. Masih banyak titik – titik krodit dan pelanggaran.  Apakah sebelum di uji coba dilapangan, tidak di simulasikan dulu di komputer?

BACA  Opini Bali Edisi 14 Juli 2015

Seharusnya tidak perlu sibuk   melakukan pengalihan.  Karena kuncinya adalah ketegasan dan menegakan  aturan.
Wayan Gama, Singaraja

 

Prihatin dengan orang Bali  jaman sekarang yang  mungkin malu jika anaknya berbahasa Bali.  Saat pulang ke desa anaknya tidak bisa berbahasa Bali. Jika bukan kita yang orang Bali yang melestarikan bahasa Bali, lalu siapa?
Wayan Petran, Bangli

 

Kemarin, kami sempat mengunjungi daerah Kintamani yang terkena bencana untuk menyerahkan sumbangan. Bangga melihat kepedulian semeton Bali yang dengan iklas dan sukarela turut membantu meringankan beban sesama.
Wayan Bratayasa, Sangeh

Komentar

Komentar

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>