Tujuh Rumah Warga Dituding Salah Dieksekusi

By on January 4, 2017
DenPost/hendraPENGUNGSIAN - Warga Kampung Bugis berada di tenda yang didirikan di Lapangan Made Bulit, Desa Serangan, Denpasar, pasca eksekusi.

Denpasar, DenPost
Eksekusi yang telah dilaksanakan terhadap 36 kepala keluarga (KK) Kampung Bugis di Pulau Serangan, Denpasar Selatan, ternyata menyisakan catatan aneh. Ada 7 KK disebutkan ikut tereksekusi dan rumahnya dirobohkan oleh tim eksekutor dari PN Denpasar. Dengan fakta itu, 7 KK ini kini bersiap untuk melaporkan pihak-pihak terkait dengan eksekusi yang salah itu ke Polda Bali.

Tujuh orang tersebut adalah Edi, Zulkifli, Mauludin, Husein, Sakaria, Bu Siti Hajar dan Muhayat. Rumah mereka berada di belakang Rumah Panggung yang kini jadi cagar budaya. “Ada tujuh rumah warga di luar 36 KK yang ikut dieksekusi. Ini salah. Saya sudah temui panitera,” ucap Rizal Akbar Maya Poetra. Atas kesalahan eksekusi itu, pihaknya hari ini (Kamis, 5/1) berencana melapor ke Polda Bali.
Sementara Humas PN Denpasar, I Made Sukereni, mengatakan dalam kasus ini, pengadilan tidak hanya mendengarkan sepihak. Tetapi mendengarkan kedua belah pihak. Bukti-bukti sudah ada, Ketua PN Denpasar tidak akan melaksakan eksekusi hanya dengan berdasarkan omongan saja. Namun berdasarkan data dan bukti yang ada. Soal adanya tudingan kelebihan eksekusi, Sukereni mengatakan, apa yang ada dalam putusan, itulah yang dieksekusi. ‘’Jika tidak menerima eksekusi yang dilakukan, ya silahkan gugat,’’ tegasnya.
Di sisi lain, soal kisruh dalam eksekusi kemarin, Rizal mengakui bahwa empat warga Kampung Bugis dijadikan tersangka oleh polisi. Mereka adalah Aditya Sulaeman, Amir Hadli, Harris Fadilah dan Said Saddam. Mereka ada yang membawa senjata tajam dan ada yang membawa panah. “Untuk tersangka ini, kami akan segera mengajukan penangguhan penahanan, dengan jaminan saya dan beberapa tokoh masyarakat,” ucap Rizal.
Lantas, kondisi masyarakat sampai saat ini? Rizal mengatakan akan tetap bertahan. Sekarang mereka ada nginap di tetangga, dan ada pula tidur di tenda dan juga tidur di masjid. Namun, dia sudah menjelaskan ke warga bahwa, pihaknya akan segera mendapatkan sertifikat tanah untuk 36 KK yang terkena eksekusi. “Saya tekankan, tidak sampai sebulan akan dikuasai lagi. Sudah ada pembatalan sertifikat kok dari BPN,” tegasnya.
Apakah pembatalan sertifikat tidak melalui proses gugatan? Ditanya demikian, Rizaldi mengatakan ini berbeda. “Ini lain. Kalau administrasi bisa kok,” jelasnya.
Sementara salah satu warga yang bertahan, Zulkifli mengatakan pihaknya masih bertahan sementara di lapangan bola. ‘’Untuk sementara jadi tempat barang-barang dan juga untuk kami istirahat,’’ ungkapnya, Rabu kemarin.
Diungkapkan juga, bantuan sudah berdatangan dari sesame umat muslim dan saudara-saudara Bugis di Denpasar. Saat ini, katanya, warga kebanyakan masih bertahan dan tidur di lapangan bola. Ada juga yang tidur di masjid. ‘’Sampai saat ini, tidak ada tidur di tempat lainnya lagi,’’ katanya.
Ditanya sampai kapan bertahan dan tidur di lapangan, Zulkifli mengatakan belum tahu. ‘’Kami tidak tahu sampai kapan, dan bagaimana cara untuk meng-recoveri trauma anak-anak dan kondisi kejiwaan mereka,’’ katanya.
Mengenai makanan, ada dapur umum dari Dinas Sosial, sekaligus dengan sarana dan pra sarananya.’’ Dari pihak PDAM juga telah menyediakan air bersih. Mengenai MCK sudah ada bantuan dari Pemerintah Kota Denpasar,’’ tandasnya. (108)

BACA  Pemilik Tas Ngaku Cuma Nitip di KFC

Komentar

Komentar

About Komang Sutrisna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>