Bermalam di Tenda, Warga Mulai Cari Kos-Kosan

By on January 4, 2017
DenPost/hendraPENGUNGSIAN - Warga Kampung Bugis berada di tenda yang didirikan di Lapangan Made Bulit, Desa Serangan, Denpasar, pasca eksekusi.

*Sehari Pasca Penggusuran di Serangan
Denpasar, DenPost
Sehari pasca penggusuran, Rabu (4/1), warga di Kampung Bugis, Serangan, Denpasar Selatan ( Densel) masih termenung mengingat kehilangan segala rumah sebagai tempat berteduhnya selama ini. Sebagian masih nampak duduk-duduk di tenda baik yang ada di Lapangan Sepak Bola Wayan Bulit Serangan maupun di emperan jalan. Ada beberapa warga juga mulai mencari rumah kos-kosan di seputaran Desa Serangan untuk dijadikan tempat tinggal selanjutnya.
Pantauan DenPost pagi kemarin, pasca eksekusi lahan suasana Kampung Bugis, Serangan memang sangat memprihatinkan. Tumpukan barang-barang yang masih bisa diselamatkan terlihat di pinggir-pinggir jalan: ada yang menitipkan di rumah warga yang lain, ada yang menaruh barang mereka di tempat pengungsian sementara.
sebagian warga korban penggusuran menempati tenda darurat di tengah lapangan. Tenda yang dikeliling terpal baik atap maupun dindingnya tersebut sebagai pelindung warga saat tidur malam sebelumnya. Nampak pula beberapa warga mencari barang-barang di reruntuhan bangunan pasca penggusuran.
Salah seorang warga, Ramli mengaku memilih tidur di tenda di lapangan. Alasannya dirinya tidak memiliki keluarga lain di Serangan maupun di Bali untuk menumpang berteduh. Sehingga dirinya bersama istri dan anak perempuannya terpaksa melalui malam di tenda darurat. “Ya terpaksa, mau di Masjid sudah penuh, tetangga juga. Hanya di sini saja yang ada tempat,” katanya. Mirisnya dirinya dan warga lain yang bermalam di tenda darurat tersebut harus melalui hujan semalam meskipun tidak deras,”ucapnya.
Beda halnya dengan Harfiah, korban penggusuran lain yang memilih membangun tenda darurat di emper warung dan rumah warga yang tidak terkena eksekusi. Ia terpaksa memilih di emperan lantaran di masjid yang tersedia sudah penuh sehingga banyak warga yang tidak mendapatkan tempat tidur.
Sama halnya Nurhayati, warga lainnya yang kehilangan rumah. Sembari terus merenung dan meneteskan air mata, Nurhayati berharap pemerintah baik dari pusat maupun daerah agar segera memberikan solusi tempat tinggal.
“Saya lahir di sini. Jadi tidak ada saudara lagi,” katanya. Ia teringat akan barang-barangnya yang tidak bisa ia selamatkan berupa mesin cuci, dan alat melaut milik suaminya. “Yang saya pikirin itu anak saya. Nanti gimana dia apa bisa sekolah, baju baju juga ikut tertimbun,” tutur ibu tiga anak ini.
Sementara Kepala Lingkungan Kampung Bugis, Serangan, Muhadi mengaku seluruh warganya tidak ada yang pindah. “Meskipun sekarang ada yang numpang sementara di tempat saudara mereka, tapi pada prinsipnya seluruh warga masih di sini. Tidak akan pindah,” kata Muhadi.
Mewakili warganya, Muhadi juga meminta pihak pemerintah baik dati unsur kecamatan, Pemkot Denpasar maupun Pemprov Bali untuk setidaknya menoleh kondisi mereka. “Kami ini kan juga bagian dari warga Denpasar, masih di Bali pula. Apakah kami akan dibiarkan dalam kondisi miris seperti ini. Mungkin yang masih punya kerabat masih bisa bertahan, tapi bagaimana mereka yang miskin yang tak punya apa pun, ada anak-anak pula,”ungkapnya.
Menurut Muhadi, warganya masih belum bisa beraktivitas. Kebanyakan daru mereka hanya bisa merenung. “Ada beberapa dari mereka mulai mencari kos-kosan sebagai tempat tinggal sementara,”imbuhnya. (way)

BACA  Pemilik Tas Ngaku Cuma Nitip di KFC

Komentar

Komentar

About Komang Sutrisna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>