Peduli Kebersihan

By on November 7, 2016

KEBERSIHAN pasti terkait dengan sampah. Sementara sampah hingga saat ini masih menghantui kita. Hal itu tidak terlepas dari masih kurang sadarnya sebagian warga masyarakat dalam mengelola sampah. Masih ada warga yang membuang sampah sembarangan, menaruh sampah di telajakan, di depan rumah bahkan di trotoar.

Dalam menangani sampah tersebut, Pemkot tak henti-hentinya berinovasi dalam membuat program yang melibatkan masyarakat, mulai dari bank sampah, jumali dan sebagainya. Teranyar Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, mengajak warga Sumerta Kelod untuk peduli pada kebersihan dengan menandatangani Deklarasi Gerakan Bersih dari sampah di kawasan Jalan Pandu, Desa Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur, Minggu (6/11) kemarin.

Gerakan tersebut sangat pas, karena diluncurkan pada mulai musim hujan saat ini. Pada musim hujan, tentu rawan terjadi banjir jika sampah masih tidak dikelola dengan baik. Sampah yang dibuang sembarangan akan terbawa hujan menuju selokan. Jika di selokan juga penuh sampah, maka aliran air tidak akan lancar. Dampaknya sudah pasti, yakni air akan meluap ke jalan. Jika hujan turun dengan intensitas sedang saja dalam waktu yang tidak terlalu lama, Denpasar pasti akan dikepung banjir. Kondisi itu tentu sangat tidak mengenakkan, bahkan bisa menghambat laju roda ekonomi. Pasalnya, jalanan kebanjiran akan menghambat laju lalu lintas, sehingga warga masyarakat susah beraktivitas.

Karena itu, gerakan peduli kebersihan tersebut sudah sepantasnya diikuti oleh warga masyarakat seluruh Kota Denpasar khususnya, dan warga Bali umumnya. Pasalnya, jika gerakan peduli kebersihan itu sifatnya sporadis, akan percuma juga. Perlu komitmen semua pihak dan semua lapisan masyarakat untuk mewujudkan kebersihan.

Sayang, ada peraturan walikota (Perwali) yang belum berjalan dengan baik yang berkaitan dengan sampah, yakni Perwali Nomor 11 tahun 2016. Perwali itu diberlakukan mulai 1 Juli 2016, di mana masyarakat Kota Denpasar dilarang menaruh sampah di depan rumah, telajakan, pinggir jalan dan di atas trotoar. Sayangnya, hingga empat bulan berjalan perwali tersebut, hingga saat ini masih banyak warga yang melanggar perwali tersebut. Selain itu, pasukan armada DKP juga tetap melayani atau memungut sampah yang ditaruh warga di trotoar, telajakan, depan rumah. Kondisi itu sangat mudah kita lihat di jalan-jalan utama dan protokol. Dengan tetap DKP melayani pemungutan sampah, warga mengira Perwali tersebut belum berlaku atau mungkin pihak instansi terkait belum melakukan sosialisasi secara maksimal.

BACA  Pasutri Residivis Gasak Belasan Laptop

Dengan menjaga kebersihan tersebut, otomatis menutup peluang berkembangnya penyakit. Terutama penyakit akibat gigitan si nyamuk poleng, Demam Berdarah Dangue (DBD). Dengan sadarnya semua warga menjaga kebersihan, maka kita tidak perlu repot membentuk kelompok jumali atau jumantik. Semoga kondisi tersebut dapat terwujud.

Komentar

Komentar

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>