Hendak Bongkar Pasar Adat, Warga Cemagi Tegang

By on December 14, 2015
USAI SEMBAHYANG - Ratusan krama Desa Adat Cemagi keluar dari pura desa setempat usai melakukan persembahyangan bersama. Mereka akhirnya mengurungkan niat membongkar pasar adat Cemagi, Minggu (13/12) kemarin.

Puluhan Polisi Berjaga

Cemagi, DenPost
Situasai Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung, Minggu (13/12) kemarin tegang. Puluhan polisi yang dibantu TNI dan Satpol PP Badung siaga disejumlah titik di desa yang berkonflik adat berkepanjangan ini. Ketegangan tersebut terkait rencana pembongkaran pasar desa adat di wilayah Banjar Bale Agung (kelompok kecil).

Ratusan warga Desa Adat Cemagi, yang merupakan kelompok besar, sejak pukul 06.00 berkumpul di pura desa lan puseh desa adat setempat. Berbagai peralatan ditenteng. Ada warga yang membawa linggis, palu, cangkul, sabit, bahkan ada yang membawa parang panjang.  Peralatan tersebut hendak digunakan membongkar pasar desa yang luasnya 4 meter X 6 meter. Lokasinya persis di depan Balai Banjar Balai Agung, atau di selatan pura desa dan puseh lama yang menjadi awal sengketa. Melalui surat Nomor: 036/XI/DAC/2015 tertanggal 30 November 2015, pihak Desa Adat Cemagi memerintahkan Kelian Banjar Bale Agung supaya mengosongkan pasar tersebut.

Warga awalnya sembahyang bersama di pura yang dipimpin Bendesa Adat Cemagi I Made Suarta, S.Ag. Hadir pula Kertha Desa, prajuru, serta Perbekel Cemagi Si Ketut Wirama. Setelah persembahyangan, Bendesa Adat mencoba memenangkan warganya. Dia mengungkapkan rencana pembongkaran pasar desa yang dibangun di atas tanah aset Desa Adat Cemagi tersebut memang merupakan program bersama. Selain pembongkaran bangunan pasar, rencananya dilanjutkan dengan pembongkaran plang Pura Desa dan Puseh Desa Adat Cemangi yang disengketakan.

“Rencana pembongkaran sebenarnya 6 Desember lalu. Mengingat ada kepentingan pilkada, maka rencana tersebut ditunda menjadi hari ini (Minggu kemarin),” ujar Suarta.

Sehari sebelum rencana pembongkaran, Suarta mengaku kembali melakukan pertemuan dengan melibatkan kesbanglimaspol, camat, dan polisi. Dari pembicaraan tersebut ada saran agar rencana pembongkaran dan pecabutan plang dipikirkan kembali, karena akan berdampak hukum. “Tidak ada yang menekan, tapi hanya disarankan karena pembongkaran dan pencabutan plang bisa masuk ranah hukum, mengingat termasuk perusakan. Tolong bantu saya untuk memikirkan bagaiman yang terbaik,” tegasnya.

BACA  Bangli Siap Tampung Pengungsi Letusan Gunung Agung

Saran yang sama, menurut Suarta, juga disampaikan pengacara desa adat yang minta agar rencana pembongkaran ditunda dulu. Terlebih aset desa tersebut termasuk plang masuk dalam barang bukti dalam kasus pengambil-alihan pelaba pura, dimana pihak desa adat telah memenangkan kasusnya di tingkat Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Kata Suarta, jangan sampai pembongkaran bangunan dan pencabutan plang akan berpengaruh pada keputusan tingkat banding nanti. Setelah mendapat penjelasan tersebut, warga akhirnya sepakat menunda pembongkaran sampai batas waktu yang belum ditentukan. Warga akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

Camat Mengwi IGN Jaya Saputra saat dihubungi di tempat terpisah juga membenarkan pembatalan pembongkaran pasar adat Desa Cemagi tersebut. “ Mengingat lokasinya masih menjadi objek sengketa, sesuai arahan pengacara dari pihak kelompok besar, maka warga urung melakukan pembongkaran bagunan pasar tersebut. Sesuai rencana, aksi pembongkaran tersebut dihadiri seluruh muspika kecamatan serta Polres Badung,’’ tegasnya.

Penundaan ini memang benar dilakukan untuk menghindari keributan antardua kelompok (besar dan kecil). “ Kami apresiasi masyarakat atas pengertiannya sehingga Desa Cemagi tetap aman,” tandas Jaya saputra. (115)

Komentar

Komentar

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>