Dua Seka Gong Meriahkan Parade Gong Kebyar Anak-Anak

By on October 11, 2015

PEMERINTAH Kota Denpasar melalui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar sebagai penyelenggara parade Gong Kebyar Anak-anak, selalu menampilkan warna yang berbeda serangkaian peringatan   109 Tahun Puputan Badung serta Mahabandana Prasada. Sebagai wadah memotivasi generasi muda untuk berkesenian, selalu diberikan ruang gerak yang lebih dalam menuangkan kreativitas seni generasi muda.

Seperti Parade Gong Kebyar Anak-anak yang berlansung di Panggung Selatan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Sabtu (10/10). Parade gong kebyar anak-anak ini juga dihadiri Penjabat Walikota AA Gede Geriya didampingi Ny. Sri Purnawati Geriya, Kepala SKPD Setda Kota Denpasar serta para Camat se-Kota Denpasar.

Parade gong kebyar yang menampilkan Seka Gong Anak-anak Bungan Ceng-ceng Banjar Gerenceng, yang mewakili Kecamatan Denpasar Utara dan Seka Gong Anak-anak Dharma Putra Banjar Tangtu Kesiman yang mewakili Denpasar Timur. Kegiatan yang berlangsung meriah ini, diawali Seka Gong Bungan Ceng-ceng Banjar Gerenceng. Dengan busana yang bernuansa cerah, yakni berwarna orange dipadukan dengan pakaian dalam putih bercorak hijau, yang membawakan tiga buah garapan tabuh yakni, Tabuh Purwa Pascima, Tari Margapati dan Tari Baris Bandana Manggala Yudha. Tabuh Purwa Pascima yang memiliki pengertian timur barat (kangin kauh) dalam bahasa Bali, pengertian tersebut terdapat makna yang sangat dalam tentang konsep pengider bhuana, dimana kangin merupakan tempat bersemayamnya Dewa Iswara dengan warna putih dan kauh sebagai tempatnya Dewa Mahadewa dengan symbol warna kuning.

Konsep ini kemudian dielaborasi menjadi konsep musikal timur (tradisi) dan barat (modern), yang menjadi sumber inspirasi dari I Wayan Berata untuk dituangkan ke dalam bentuk bahasa musikal menjadi sebuah komposisi tabuh kreasi baru dinamai “Purwa Pascima” perpaduan musik Bali dengan musik Barat dengan menonjolkan teknik permainan suling yang tergolong rumit serta memasukan musikalitas gambelan angklung dan selonding menjadi bagian gegenderan yang dibina oleh I Nyoman Tama , I Ketut Dharma Susila dan I Ketut Natasana.

BACA  Lagi, Gigitan Anjing Telan Korban

Sedangkan Seka Gong Anak-anak Dharma Putra Banjar Tangtu Kesiman dengan busana mencolok merah, yang melambangkan keberanian yang membawakan tiga buah garapan yakni, Tabuh Jaya Semara , Tari Margapati dan Tari Manuk Rawa. Tabuh Jaya Semara merupakan kemauan atau keinginan dari sesepuh seni I Wayan Berata membuat sebuah konsep komposisi musik (tabuh) kreasi dengan memasukan teknik –teknik kekebyaran yang ada dalam gamelan gong kebyar.

Hampir semua instrumen yang ada dalam barungan tersebut mendapat sentuhan atau porsi pola permainan masing-masing yang begitu dinamis, inovatif dan enerjik, kemudian dibingkai menjadi satu kesatuan komposisi tabuh kreasi yang singkat , padat dan berisi serta mempunyai makna tinggi adalah ciri dari Tabuh Jaya Samara ini. Tabuh yang dibina oleh Made Adnyana dan Ketut Budiana ini merupakan sebuah komposisi tabuh kreasi baru yang tergolong rumit namun mudah dicerna oleh pendengarnya. ( Eka/ HumasDps)       

Komentar

Komentar

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>