Pecandu Minta Rehabilitasi

By on August 27, 2015

KIAN banyaknya jumlah pemakai narkoba di Bali, membuat aparat khususnya Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali putar otak. Apalagi Presiden Joko Widodo akan mengeluarkan peraturan presiden (perpres) mengenai kewajiban rehabilitasi bagi para pecandu narkotika.

Menurut Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Anang Iskandar, akan ada perpres untuk memayungi masalah penanganan pecandu narkoba.

Pemerintah menginstruksikan setiap lembaga agar menyamakan aturan terhadap pemakai narkoba. Dalam hal ini setiap lembaga memperlakukan cara yang berbeda dalam menangani pemakai dan pengedar narkoba. Setiap lembaga wajib melindungi, mengayomi, yang salah satunya dengan memberikan rehabilitasi.

Hal ini dilakukan mengingat sanksi pidana berupa pemenjaraan bagi pengguna narkoba tidak bakal menyelesaikan masalah. Kondisi di dalam penjara tidak memberikan efek jera, apalagi penyembuhan atas dampak kecanduan yang ditimbulkan akibat pemakaian narkoba. Malah pemenjaraan itu bisa memperluas peredaran narkoba, mengingat seorang pemakai bisa menularkan kebiasaannya kepada tahanan lain dalam satu penjara.

Pun para penegak hukum, baik penyidik kepolisian, jaksa, dan hakim, diminta untuk menghindari pemberian sanksi pidana bagi para pemakai narkoba. Sebaliknya, hukuman pidana yang cukup berat harus diberikan bagi para pengedar dan bandar narkoba.

Tapi sebelum para pemakai tersebut keburu kecanduan dan ditangkap polisi, alangkah baiknya kalau mereka melapor dulu ke BNN untuk dilakukan rehabilitasi. Dengan melaporkan diri sendiri ke BNN, maka tidak ada proses hukum, dan pemakai dijamin kerahasian identitasnya.

Upaya semacam ini memang bagus, tapi BNN juga harus menyaring atau menyeleksi ketat setiap orang yang mengaku pemakai atau orang yang kecanduan narkoba.

Selain mencatat identitas, petugas juga perlu memeriksa secara cermat orang yang mengaku kecanduan, termasuk melihat rekam jejaknya. Tujuannya, tentu mencapai tepat sasaran. Artinya orang yang benar-benar sebagai korban atau pemakai narkoba saja yang mesti menjalani rehabilitasi. Sebaliknya, perlu dihindari kalau ada orang yang mengaku pemakai, tapi juga sekaligus pengedar.

BACA  Cuaca Tak Menentu, Berpotensi Terjangkit Berbagai Penyakit

Kedua kasus ini memang sulit dipisahkan, karena pasti banyak pula pemakai yang terpaksa menjadi pengedar hanya untuk memenuhi hasratnya mendapatkan narkoba. Dengan kata lain, pemakai harus putar otak untuk mendapatkan uang membeli narkoba, salah satunya yang mudah dilakukan yakni merangkap sebagai pengedar.

Untuk itulah kejelian petugas sangat diperlukan supaya program merehabilitasi pemakai narkoba benar-benar tercapai. Bukan malah sebaliknya, budi baik semacam ini dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk berkelit dari jeratan hukum dengan cara mengaku-ngaku sebagai pemakai. Penting pula menghindari permainan antara pengedar dengan oknum aparat dengan cara main sogok dan sejenisnya.

Terpenting, dengan dilakukannya rehabilitasi, kita harapkan para pemakai maupun pecandu narkoba di masa mendatang bisa ditekan, bahkan
ditiadakan. (*)

Komentar

Komentar

About denpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>