Seniman Muda Diharapkan Mampu Bangkitkan Drama Gong Kembali

By on January 27, 2015
Drama Gong Bangli Batal Tampil di PKB Ke-39

Denpasar, DenPost
Pementasan kesenian drama gong belakangan ini kian jarang dapat disaksikan. Tak adanya lagi seniman yang metaksu serta minimnya minat generasi muda menyaksikan, bahkan mempelajari seni ini sehingga semakin membenamkan seni yang sempat jaya di era tahun 80-an ini. Budayawan Bali, Prof. Wayan Dibia, Senin (26/1) kemarin,  mengungkapkan, seni erat hubungannya dengan nuansa teater hendaknya mulai diperhatikan banyak pihak. Saat ini drama gong ibarat mati suri, seni yang mampu menghibur masyarakat Bali ini hanya bisa disaksikan saat berlangsungnya Pesta Kesenian Bali (PKB) saja.

Dibia menuturkan, sangat miris melihat drama gong yang mempunyai seniman-seniman handal, namun kiprahnya kini tidak bisa seperti dahulu, “Sejatinya ini bukan salah seniman ataupun pemerintah, tapi kesempatan mereka berkarya sepertinya kalah dengan penayangan sinetron di televisi,”  ujar Dibia.

Lebih lanjut Dibia menjelaskan, drama gong merupakan seni yang memadukan unsur drama modern dengan unsur kesenian tradisional Bali. Nama drama gong diberikan kepada kesenian ini karena pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi gamelan gong kebyar. Seni ini diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari Desa Abianbase, Gianyar. “Karena memiliki kesulitan yang tinggi, kesenian ini juga akhirnya semakin sedikit peminatnya,”  papar dosen ISI ini.

Dia berharap, seniman-seniman muda yang kini telah mulai bermunculan kembali mampu mengangkat kejayaan kesenian tradisional ini. Memberikan lebih banyak kesempatan untuk tampil pastinya akan memberikan pengalaman pada seniman-seniman muda. Selain itu, kini banyak seniman drama gong tahun 1980-an yang kehidupannya kekurangan, baik dari segi ekonomi atau sakit-sakitan. Bantuan pemerintah tentunya sangat diperlukan sebagai apresiasi atas jerih payah mereka mengharumkan seni Bali. “Dulu sangat terkenal seka drama gong, seperti Sancaya Dwipa, Bintang Bali Timur dan lainnya. Masyarakat tentunya sangat merindukan hiburan ketika masa-masa jaya seka drama gong tersebut. Namun banyak dari seniman ini kini terbaring sakit. Bahkan ada pula yang telah meninggal dunia sehingga regenerasi sulit dilakukan,” paparnya. (dwi)

Komentar

Komentar

BACA  Tim Penilai dan ST Sepakat

About freshcms

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>